Mertua Vs Menantu, Hubungan Paling Sensitif Dalam Sebuah Keluarga

Mertua Vs Menantu, Hubungan Paling Sensitif Dalam Sebuah Keluarga

Mertua vs menantu memang tidak dapat dipisahkan dari yang namanya keluarga, karena mereka saling berkaitan satu sama lain. Di satu sisi, menantu terikat oleh mertua dikarenakan menikahi anaknya.

Ada juga mertua yang terikat dengan menantunya karena menikahkan anaknya dengan menantunya. Seringnya perbedaan pendapat dan budaya sering menimbulkan gesekan yang mengakibatkan adanya perselisihan diantara keduanya.

Semisal saja dari cara masak si menantu yang kekinian dan terbiasa menggunakan cara A. Sedangkan cara masak mertua yang mengikuti jaman dulu tentunya akan sangat berbeda dengan cara menantu.

Perbedaan inilah yang jika tidak saling menghargai, maka akan timbul banyak perselisihan yang mengakibatkan pertikaian dan perang mulut diantara keduanya.

Padahal, sejatinya hal tersebut bukan menjadi masalah yang harus dipermasalahkan secara mendalam. Namun ini menyangkut harga diri diantara keduanya.

Biasanya karena sang mertua merasa memiliki jam terbang tinggi, akan merasa dirinya paling benar. Padahal teknologi semakin berkembang, tentunya ilmu juga berkembang dan tidak semua hal bisa disamakan antara cara dulu dengan cara saat ini.

Begitulah gambaran kasarnya.

Mari kita bahas mengenai mertua vs menantu di artikel ratutips ini hingga selesai.

1. Mertua Wanita vs Menantu Wanita Yang Sering Terlibat Adu Mulut

Masih sangat saya ingat di benak saya dulu ketika teman SMA saya yang akhirnya menikah dengan lelaki pujaannya. Akhirnya harus menikah muda dikarenakan sesuatu hal yang mengharuskan ia menikah.

Karena persiapan yang belum matang dan sama-sama belum mapan, akhirnya mereka mau tidak mau harus tinggal di rumah orang tua lakinya.

Darisitulah kejadian kecil sering terjadi yang membuat teman saya banyak terkuras air matanya.

Dimulai dari ia sering disuruh membereskan rumah mertuanya ketika suaminya tidak ada. Sedangkan sebelumnya ia hidup enak bersama orangtuanya.

Kebiasaan inilah yang membuat banyak menantu kaget dengan perubahan yang terjadi di kehidupannya. Yang awalnya biasa hidup "enak", akhirnya harus menelan pil pahit yang sama sekali tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya.

Awalnya ia sangat baik dan menuruti permintaan mertua wanitanya walaupun masih berat hati. Akan tetapi, sang mertua sudah dibantu malah tidak bersyukur dan mengomentari cucian piring yang sudah dicuci oleh menantunya.

"Neng, kok cuci piringnya kotor gini? Ibu aja sering bersih loh. Ini sabunnya kurang apa gimana?". Jleb hati temanku teriris. Dia merasa tak dihargai oleh orangtua suaminya.

Menangislah ia dikamar tanpa memberi tahu hal ini kepada suaminya. Dia akan menyabarkan diri untuk beberapa saat dan memaafkan perbuatan mertuanya yang tidak bersyukur.

Di sudut pandang mertua, mungkin maksudnya ingin menyampaikan agar ia bisa lebih bersih lagi dalam mencuci piring. Namun, mertua pun harus mengetahui posisinya bahwa anak tersebut bukanlah anak kandungnya.

Ia memiliki orangtua yang sangat menyayanginya. Maka, perlakukanlah ia dengan sebaik-baiknya. Dia dengan ikhlas memilih anakmu dan meninggalkan orangtuanya.

Hal ini yang membuat saya akhirnya mengambil keputusan untuk mapan sebelum menikah. Karena cinta saja tidak cukup. Betul, tidak?

2. Sudut Pandang dan Cara Penyelesaian Masalah yang Berbeda

Persis tetangga saya sempat bercerita bahwa anaknya saat itu diare ketika berumur 6 bulan. Sebelum diare terjadi pada anaknya, mertua wanita berkunjung kerumahnya. Karena saking sayang cucunya, beliau memberikan roti dan juga teh pada bayi yang baru mau menginjak usia 6 bulan.

Padahal seperti yang kita ketahui, bayi 6 bulan diwajibkan minum asi dan juga air putih saja. Dan makanan pun harus diawasi dan benar-benar makanan untuk bayi.

Tetangga saya pun saat itu melarang dengan bahasa yang sopan dan santun. Akan tetapi sang mertua berdalih bahwa jaman dulu anaknya saja waktu bayi 4 bulan sudah diberikan banyak makanan aneh-aneh, termasuk roti dan juga teh.

Mendengar ocehan tersebut, tetangga saya mengiyakan saja daripada menjadi masalah dan terjadi adu mulut. "Sudah terlalu lelah", katanya. Namun, dua hari setelah kejadian, anaknya langsung diopname dikarenakan diare.

Tentunya cara pandang setiap orang tentunya sangat berbeda. Apalagi jika dibandingkan antara pengasuhan jaman dulu dan jaman sekarang pastinya sangat berbeda juga.

Hal ini yang menyebabkan banyak dari sebagian mertua dan menantu sering adu mulut karena memiliki sudut pandang yang berbeda,

Lantas apakah kita sebagai menantu harus mengiyakan saja atau memberikan pendapat yang konkrit sesuai apa yang kita ketahui?

Hmm.. membicarakan masalah ini tidak pernah ada habisnya. Karena Anda pun harus melihat terlebih dahulu karakter mertua seperti apa yang Anda hadapi dan akan saya jelaskan di paragraf selanjutnya.

3. Mertua Laki vs Menantu Lebih Kalem dan Tidak Ikut Campur

Sepertinya, selama saya hidup di dunia ini. Saya tidak pernah mendengar kata-kata mertua laki laki yang maaf "kurang disukai atau semacamnya. 

Karena menurut saya mertua laki laki bawaanya lebih kalem dan "jarang mencampuri urusan dapur anaknya", termasuk pada menantunya.

Hal ini yang menyebabkan menantu wanita bahkan menantu pria pun jarang bertengkar bahkan adu mulut dengan mertua laki laki. Karena tidak ada pemantik yang membuat api menculut.

Tentunya adu mulut terjadi karena ada sebab-akibat. Sedangkan jika mertua laki laki tidak pernah memancing keributan, buat apa adu mulut dan membuat masalah?

4. Kriteria Mertua dan Cara Menghadapinya

Beberapa kali saya mendengar curhatan teman saya yang sering merasa "sakit hati" dengan perkataan si mertua. Akan tetapi, ada juga beberapa teman yang diberikan kebahagaiaan memiliki mertua yang baik dan tidak ikut campur urusan dapur anaknya.

Terkadang, kita harus pintar alias smart dalam menghadapi sikap dan perilaku mertua. Ada mertua yang baik jika kita melakukan sikap A. Ada juga mertua yang baik jika kita memberikan B, misalnya.

a. Mertua yang Baik Sekali

Kriteria mertua seperti ini patut diancungi jempol, karena ia sangat bersyukur akan kehadiran Anda sebagai menantunya.

Namun biasanya, memang karakter si mertua Anda yang memang baik dari dulunya dan tidak pernah membuat masalah. Menantu dijadikan seperti anak sendiri dan diperlalukan baik oleh mertua.

Jika Anda mendapati ini, Anda harus selalu bersyukur karena diluar sana masih banyak mertua yang menuntut lebih pada menantunya.

b. Mertua yang "Hijau"

Ada beberapa teman yang share mengenai tingkah laku mertuanya yang seolah-olah menjadikan menantu sebagai "bank" untuk rumahnya.

Mulai dari terang-terangan meminta dana yang melebihi kemampuan sang menantu. Bahkan ada beberapa cara halus yang tidak terlihat namun intinya seperti itu.

Cara menghadapi mertua seperti itu cukup mudah. Anda tinggal jaga jarak diantara Anda dan juga mertua, lalu alihkan pemberian keuangan yang awalnya lewat Anda kepada suami Anda.

Dengan memberikan jarak pada mertua, setidaknya ia akan berpikir dua kali untuk menjadikan Anda bank untuknya.

c. Mertua yang Ngeyel dan Ingin Menang Sendiri

Ini yang sering saya temui dan sering saya dapati ketika banyak teman yang curhat mengenai mertua yang ngeyel alias agak "keras kepala" dan merasa dirinya paling benar.

Cara menghadapi mertua seperti ini memang unik. Anda harus mengiyakan saja apa yang ia bicarakan. Buat ia merasa setinggi-tingginya.

Biasanya mertua tipe begini senang diperlakukan istimewa. Oleh sebab itu, daripada Anda membantahnya dan terjadi adu mulut. Anda iyahkan saja atau cukup senyum saja.

d. Mertua yang Menjadikan Menantu Sebagai "Nanny"nya

Biasanya, hal ini terjadi pada mertua yang merasa memiliki segalanya. Ia memperlakukan menantu dengan tidak baik bahkan mem"babukan" menantunya sendiri.

Saya sering melihat di beberapa kasus yang membuat si istri seperti pembantu di rumah mertuanya. Cukup miris dan sakit hati melihatnya, namun inilah kenyataan yang ada di lapangan.

Istri yang awalnya cantik, berubah menjadi kusut dan layu karena perlakuan mertuanya sendiri.

Cara menghadapi agar Anda tidak terjerumus kedalam kesedihan yang luar biasa ini. Anda sendiri harus meyakinkan pada diri sendiri bahwa Anda layak bahagia dan memilikiharga diri.

Tidak serta merta Anda tidak membantu mertua sama sekali, namun Anda harus tahu porsinya. Mungkin Anda mengerti maksud tulisan ini.

Ketika Anda disuruh hal yang sepele, Anda bisa membantunya. Namun, jika yang disuruh sudah melewati batas, lebih baik Anda tolak dengan bahasa yang halus. Agar mertua Anda tidak terlalu "berani" kepada Anda.

Dan masih banyak lagi tipe mertua yang ingin saya bahas, namun segitu dulu saja untuk saat ini.

Yang terpenting, kita sebagai menantu sudah memberikan yang terbaik pada mertua kita. Akan tetapi jika mertua masih memperlakukan kita dengan cara yang tidak adil alias tidak baik, biarkan itu menjadi urusan beliau dengan Allah SWT.

5. Terkadang, Hidup Jauh dengan Mertua akan Lebih Indah

Banyak yang lebih sensitif hubungan antara mertua dan juga menantu dikarenakan mertua terlalu ikut campur dengan urusan anaknya. Mohon maaf sebelumnya, saya tidak ada maksud untuk menjelekan pihak tertentu, namun inilah keadaannya.

Malah, di feed instagram pun banyak antara suami istri yang berselisih paham dikarenakan sang mertua perempuan terlalu ikut campur urusan keluarga anaknya.

Sehingga pada akhirnya yang dikorbankan adalah keutuhan rumah tangga anaknya sendiri. Ada yang berakhir dengan perceraian, malah ada yang masih bersama, namun rasa cinta berkurang karena membenci orangtua pasangan.

Tentunya perselisihan ini banyak mengakibatkan hal negatif dalam keluarga, terlebih lagi istri yang akan rentan stress jika tinggal bersama mertua.

Ada baiknya "tinggallah dan hidup sendiri walaupun hanya ngontrak satu petak". Daripada Anda menjadi banyak masalah karena tinggal bersama mertua.

Mungkin satu hari dua hari tinggal bersama mertua akan terasa indah, namun lama kelamaan, silahkan rasakan sendiri endingnya.

Kesimpulan : Tetaplah Bersyukur Memiliki Mertua Seperti Itu, yang Terpenting Tetap Bersyukur Memiliki Suami yang Baik dan Setia

Banyak yang menjadi berselisih paham diantara suami dan istri dikarenakan mertua yang "tanda kutip".

Akan tetapi, tetap bersyukurlah memiliki suami yang setia, karena diluar sana masih banyak pria yang berselingkuh dan tidak setia pada istrinya.

Selama suami support istri dalam segala hal apapun, sudah sepatutnya kita bersyukur. Dan anggaplah mertua sebagai ujian dan Anda harus banyak bersabar lagi.

Lebih baik memiliki suami yang setia dan mertua yang tanda kutip, daripada memiliki mertua yang baik tapi suami tukang selingkuh.

Namun lebih baik lagi dan lebih beruntung lagi jika memiliki suami yang baik dan juga mertua yng baik. Jadi, bagi Anda yang ingin menikah, janganlah hanya berdoa memiliki suami yang baik, setia, dan mapan. Namun berdoa juga untuk mendapatkan mertua yang baik.

Karena memiliki mertua yang baik merupakan salah satu anugerah oleh Allah yang membuat kebahagiaan Anda semakin lengkap, selalu bahagia dan penuh rasa syukur.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Komentar untuk "Mertua Vs Menantu, Hubungan Paling Sensitif Dalam Sebuah Keluarga"

  1. kalau saya pernah tu langsung di depan mata saya mertua ama menantu jambak jambakan hanya karena mertuanya memarahi cucunya sendiri, sang mama tidak terima lalu melabrak mertua, mertua marah dan terjadilah perkelahian antara hilda dengan odette heehehee

    BalasHapus
  2. aku bersyukur bisa cocok ama mertuaku yg perempuan. kami tuh banyaak bgt kesamaan mba. sama2 gemini, sama2 lahir juni, sama2 suka traveling, sama2 suka kuliner, sama2 ga suka masak dan ngerjain urusan rumahtangga. itu kami serahin ke asisten hahahaha. makanya aku ama mama bisa cocok bangetttt. kami srg cari kuliner baru, trus dicobain sama2.. jalan2 bareng.. cocok jadinya.. dan mama mertua dr awal aku nikah, dia malah nganjurin, "kalo udh nikah kalian tinggal di rumah mama yg 1 lg. kan deketan. pamali kalo udh menikah msh ama ortunya. lbh bgs beda, tp hub ttp harmonis. mama belajar dr pengalaman"

    The best sih mama mertuaku :D. malah nganjurin begitu, tanpa aku repot2 cari alasan utk pisah rumah :D

    BalasHapus
  3. Membaca tulisan ini, pertama - tama harus saya apresiasi karena banyak hal yang bisa dipelajari. Misalnya "bersyukurlah selalu karena memiliki suami yang setia karena di luar sana banyak pria yang berselingkuh..." tetapi (shering saja), intinya saling mengerti bukan dimengerti, namun mencari yang ideal seperti itu rasanya sulit, jadi intinya syukuri apa yang ada... Artikelnya menarik.. keren

    BalasHapus

Terimakasih atas waktunya.. Terimakasih sudah membaca artikel ini.. Silahkan tinggalkan komentar..

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel